
Invalid Date
Dilihat 37 kali

Membangun kepedulian terhadap lingkungan perlu dimulai sejak usia dini, salah satunya melalui pembiasaan memilah sampah sesuai jenisnya. Berangkat dari semangat tersebut, Kelompok KKN-T Inovasi IPB University Desa Carita menyelenggarakan kegiatan BERSERI (Bersih, Sehat, dan Lestari) di SDN Carita 1 pada Sabtu (18/7/2026). Kegiatan yang diikuti oleh 55 siswa kelas III ini bertujuan memberikan edukasi mengenai pemilahan sampah organik, anorganik, dan bahan berbahaya dan beracun (B3) sebagai langkah awal membangun kebiasaan pengelolaan sampah yang baik sejak dari sumbernya.
Edukasi ini dilatarbelakangi oleh kondisi Desa Carita yang belum memiliki akses ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sehingga pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN-T IPB memperkenalkan pentingnya memilah sampah sebelum dibuang agar setiap jenis sampah dapat ditangani sesuai karakteristiknya. Dengan melibatkan siswa sekolah dasar sebagai peserta utama, diharapkan kebiasaan tersebut dapat tumbuh sejak dini dan turut diterapkan di lingkungan keluarga.
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai berbagai jenis sampah yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa menjelaskan perbedaan antara sampah organik, anorganik, dan B3 menggunakan media visual yang menarik serta contoh-contoh benda yang dekat dengan kehidupan anak-anak.
Siswa diajak mengenali bahwa sisa makanan, daun, dan kulit buah termasuk dalam kelompok sampah organik yang dapat terurai secara alami. Sementara itu, botol plastik, kaleng, dan kertas termasuk sampah anorganik yang masih dapat dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang. Mahasiswa juga memperkenalkan sampah B3, seperti baterai bekas, lampu, dan obat-obatan kedaluwarsa, yang memerlukan penanganan khusus karena berpotensi membahayakan kesehatan manusia maupun lingkungan apabila tercampur dengan sampah lainnya.
Materi disampaikan menggunakan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh peserta. Mahasiswa juga memberikan berbagai contoh situasi yang sering ditemui di rumah maupun di sekolah agar siswa dapat lebih mudah menghubungkan materi dengan kebiasaan sehari-hari.
Selain memperkenalkan jenis-jenis sampah, mahasiswa menjelaskan alasan mengapa pemilahan sampah perlu dilakukan sejak dari sumbernya. Sampah yang telah dipilah akan lebih mudah dikelola, mengurangi risiko pencemaran lingkungan, serta mendukung berbagai program pengelolaan sampah lainnya, termasuk pemanfaatan sampah organik untuk lubang biopori maupun pengolahan kompos.

Games Interaktif Latih Pemahaman Siswa
Agar proses belajar menjadi lebih menarik, kegiatan dilanjutkan dengan permainan interaktif berupa games memilah sampah. Dalam permainan ini, siswa diminta mengelompokkan berbagai gambar benda ke dalam kategori sampah organik, anorganik, maupun B3 sesuai dengan pengetahuan yang telah mereka peroleh sebelumnya.
Melalui metode pembelajaran berbasis permainan, mahasiswa tidak hanya mengajak siswa menghafal jenis sampah, tetapi juga melatih kemampuan mereka dalam mengidentifikasi sampah berdasarkan karakteristiknya. Ketika terdapat jawaban yang kurang tepat, mahasiswa memberikan penjelasan secara langsung sehingga siswa dapat memahami alasan di balik setiap pengelompokan.
Pendekatan interaktif tersebut membuat proses edukasi terasa lebih efektif karena siswa memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan materi secara langsung. Dengan demikian, konsep pemilahan sampah tidak hanya dipahami secara teori, tetapi juga mulai menjadi kebiasaan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Aditya Kusuma Wardhana, mahasiswa Program Studi Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University, menjelaskan bahwa pendidikan lingkungan perlu diberikan sejak usia dini agar menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
"Lingkungan yang bersih dimulai dari kebiasaan kecil yang kita tanamkan sejak dini. Melalui edukasi pemilahan sampah, anak-anak tidak hanya belajar membedakan jenis sampah, tetapi juga belajar bertanggung jawab dan peduli terhadap lingkungan," ujarnya.
Menurutnya, anak-anak memiliki peran penting sebagai agen perubahan di lingkungan keluarga. Pengetahuan yang diperoleh di sekolah diharapkan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi juga dapat diterapkan di rumah dan dibagikan kepada orang tua maupun anggota keluarga lainnya.
Melalui kegiatan BERSERI, mahasiswa KKN-T Inovasi IPB berupaya memperkenalkan konsep pengelolaan sampah yang dimulai dari langkah paling sederhana, yaitu memilah sampah sejak dari sumbernya. Kebiasaan tersebut menjadi fondasi penting dalam mendukung pengelolaan sampah yang lebih efektif, terutama di Desa Carita yang belum memiliki akses ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Edukasi kepada siswa sekolah dasar juga diharapkan mampu menciptakan dampak yang lebih luas. Dengan meningkatnya pemahaman mengenai jenis-jenis sampah dan cara penanganannya, anak-anak dapat menjadi contoh bagi lingkungan sekitarnya dalam menerapkan kebiasaan memilah sampah secara mandiri. Kebiasaan tersebut sekaligus mendukung berbagai program pengelolaan lingkungan lain yang memanfaatkan sampah organik sebagai bahan utama, seperti pembuatan kompos maupun lubang biopori.
Ke depan, kegiatan edukasi lingkungan seperti BERSERI diharapkan dapat terus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Melalui kolaborasi tersebut, kesadaran menjaga kebersihan lingkungan dapat tumbuh sejak usia dini dan menjadi bagian dari budaya masyarakat dalam mewujudkan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan lestari.
Bagikan:

Desa Carita
Kecamatan Carita
Kabupaten Pandeglang
Provinsi Banten
© 2026 Powered by PT Digital Desa Indonesia
Pengaduan
0
Kunjungan
Hari Ini